1. Anjing.
Para
ulama sepakat akan haramnya memakan anjing, di antara dalil yang
menunjukkan hal ini adalah bahwa anjing termasuk dari hewan buas yang
bertaring yang telah berlalu pengharamannya. Dan telah tsabit dari Nabi
-Shallallahu ‘alaihi wasallam- bahwa beliau bersabd a:
إِنَّ الله إِذَا حَرَّمَ شَيْئًا حَرَّمَ ثَمَنَهُ
“Sesungguhnya Allah jika mengharamkan sesuatu maka Dia akan mengharamkan harganya[1]“.
Dan
telah tsabit dalam hadits Abu Mas’ud Al-Anshory riwayat Al-Bukhary dan
Muslim dan juga dari hadits Jabir riwayat Muslim akan haramnya
memperjualbelikan anjing.
[Al-Luqothot point ke-12]
2. Kucing baik yang jinak maupun yang liar.
Jumhur ulama menyatakan haramnya memakan kucing karena dia termasuk hewan yang bertaring dan memangsa dengan taringnya. Pendapat ini yang dikuatkan oleh Syaikh Al-Fauzan. Dan juga telah warid dalam hadits Jabir riwayat Imam Muslim akan larangan meperjualbelikan kucing, sehingga hal ini menunjukkan haramnya.[Al-Majmu' (9/8) dan Hasyiyah Ibni 'Abidin (5/194)]
3. Monyet.
Ini merupakan madzhab Syafi’iyah dan merupakan pendapat dari ‘Atho`, ‘Ikrimah, Mujahid, Makhul, dan Al-Hasan. Imam Ibnu Hazm menyatakan, “Dan monyet adalah haram, karena Allah -Ta’ala- telah merubah sekelompok manusia yang bermaksiat (Yahudi) menjadi babi dan monyet sebagai hukuman atas mereka. Dan setiap orang yang masih mempunyai panca indra yang bersih tentunya bisa memastikan bahwa Allah -Ta’ala- tidaklah merubah bentuk (suatu kaum) sebagai hukuman (kepada mereka) menjadi bentuk yang baik dari hewan, maka jelaslah bahwa monyet tidak termasuk ke dalam hewan-hewan yang baik sehingga secara otomatis dia tergolong hewan yang khobits (jelek)”[2].[Al-Luqothot point ke-13]
4. Gajah.
Madzhab
jumhur ulama menyatakan bahwa dia termasuk ke dalam kategori hewan buas
yang bertaring. Dan inilah yang dikuatkan oleh Imam Ibnu ‘Abdil Barr,
Al-Qurthuby, Ibnu Qudamah, dan Imam An-Nawawy -rahimahumullah-.
[Al-Luqothot point ke-14]
Halal, karena walaupun bertaring hanya saja dia tidak mempertakuti dan memangsa manusia atau hewan lainnya dengan taringnya dan dia juga termasuk dari hewan yang baik (arab: thoyyib). Ini merupakan madzhab Malikiyah, Asy-Syafi’iyah, dan salah satu dari dua riwayat dari Imam Ahmad.[Mughniyul Muhtaj (4/299), Al-Muqni' (3/528), dan Asy-Syarhul Kabir (11/67)]
Pendapat
yang paling kuat di kalangan ulama -dan ini merupakan pendapat Imam
Asy-Syafi’iy dan Imam Ahmad- adalah halal dan bolehnya memakan daging
hyena. Hal ini berdasarkan hadits ‘Abdurrahman bin ‘Abdillah bin Abi
‘Ammar, beliau berkata, “Saya bertanya kepada Jabir, “apakah hyena
termasuk hewan buruan?”, beliau menjawab, “iya”. Saya bertanya lagi,
“apakah boleh memakannya?”, beliau menjawab, “boleh”. Saya kembali
bertanya, “apakah pembolehan ini telah diucapkan oleh Rasulullah?”,
beliau menjawab, “iya”“. Diriwayatkan oleh Imam Lima[3] dan dishohihkan
oleh Al-Bukhary, At-Tirmidzy dan selainnya. Lihat Talkhishul Khabir
(4/152).
Pendapat ini yang dikuatkan oleh Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam Al-Fath (9/568) dan Imam Asy-Syaukany.
Adapun
jika ada yang menyatakan bahwa hyena adalah termasuk hewan buas yang
bertaring, maka kita jawab bahwa hadits Jabir di atas lebih khusus
daripada hadits yang mengharamkan hewan buas yang bertaring sehingga
hadits yang bersifat khusus lebih didahulukan. Atau dengan kata lain
hyena diperkecualikan dari pengharaman hewan buas yang bertaring. Lihat
Nailul Author (8/127) dan I’lamul Muwaqqi’in (2/117).
[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/52)]
7. Kelinci.
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhary dan Imam Muslim dari Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:
أَنَّهُ صلى الله عليه وسلم أُهْدِيَ لَهُ عَضْوٌ مِنْ أَرْنَبٍ، فَقَبِلَهُ
“Sesungguhnya
beliau (Nabi) -Shallallahu ‘alaihi wasallam- pernah diberikan hadiah
berupa potongan daging kelinci, maka beliaupun menerimanya”.
Imam
Ibnu Qudamah berkata dalam Al-Mughny, “Kami tidak mengetahui ada
seorangpun yang mengatakan haramnya (kelinci) kecuali sesuatu yang
diriwayatkan dari ‘Amr ibnul ‘Ash”.
[Al-Luqothot point ke-16]
8. Belalang.
Telah
berlalu dalam hadits Ibnu ‘Umar bahwa bangkai belalang termasuk yang
diperkecualikan dari bangkai yang diharamkan. Hal ini juga ditunjukkan
oleh perkataan Anas bin Malik -radhiallahu ‘anhu-:
غَزَوْنََا مَعَ رسول الله صلى الله عليه وسلم سَبْعَ غَزَوَاتٍ نَأْكُلُ الْجَرَادَ
“Kami
berperang bersama Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- sebanyak 7
peperangan sedang kami hanya memakan belalang”. (HR. Al-Bukhary dan
Muslim)
[Al-Luqothot point ke-17]
Pendapat
yang paling kuat yang merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah
bahwa dhabb adalah halal dimakan, hal ini berdasarkan sabda Nabi
-Shallallahu ‘alaihi wasallam- tentang biawak:
كُلُوْا وَأَطْعِمُوْا فَإِنَّهُ حَلاَلٌ
“Makanlah
dan berikanlah makan dengannya (dhabb) karena sesungguhnya dia adalah
halal”. (HR. Al-Bukhary dan Muslim dari hadits Ibnu ‘Umar)
Adapun
keengganan Nabi untuk memakannya, hanyalah dikarenakan dhabb bukanlah
makanan beliau, yakni beliau tidak biasa memakannya. Hal ini sebagaimana
yang beliau khabarkan sendiri dalam sabdanya:
لاَ بَأْسَ بِهِ، وَلَكِنَّهُ لَيْسَ مِنْ طَعَامِي
“Tidak apa-apa, hanya saja dia bukanlah makananku”.
Ini yang dikuatkan oleh Imam An-Nawawy dalam Syarh Muslim (13/97).
[Mughniyul Muhtaj (4/299) dan Al-Muqni' (3/529)]
10. Landak.
Syaikh Al-Fauzan menguatkan pendapat Asy-Syafi’iyyah akan boleh dan halalnya karena tidak ada satupun dalil yang menyatakan haram dan khobitsnya. Lihat Al-Majmu’ (9/10).
Kelima hewan ini haram dimakan, berdasarkan haditsAbu Hurairah -radhiallahu ‘anhu-, beliau berkata:
نَهَى رسول الله صلى الله عليه وسلم عَنْ قَتْلِ الصُّرَدِ وَالضِّفْدَعِ وَالنَّمْلَةِ وَالْهُدْهُدِ
“Rasulullah
-Shallallahu ‘alaihi wasallam- melarang membunuh shurod, kodok, semut,
dan hud-hud. (HR. Ibnu Majah dengan sanad yang shohih).
Adapun larangan membunuh lebah, warid dalam hadits Ibnu ‘Abbas yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Daud.
Dan
semua hewan yang haram dibunuh maka memakannyapun haram. Karena tidak
mungkin seeokor binatang bisa dimakan kecuali setelah dibunuh.
Halal.
Ini merupakan madzhab Asy-Syafi’iyah dan Al-Hanabilah, dan merupakan
pendapat ‘Urwah, ‘Atho` Al-Khurosany, Abu Tsaur, dan Ibnul Mundzir,
karena asal dari segala sesuatu adalah halal, dan tidak ada satupun
dalil yang menyatakan haramnya yarbu’ ini. Inilah yang dikuatkan oleh
Imam Ibnu Qudamah dalam Al-Mughny (11/71).
[Hasyiyatul Muqni' (3/528) dan Mughniyul Muhtaj (4/299)]
13. Kalajengking, ular, gagak, tikus, tokek, dan cicak.
Karena
semua hewan yang diperintahkan untuk dibunuh tanpa melalui proses
penyembelihan adalah haram dimakan, karena seandainya hewan-hewan
tersebut halal untuk dimakan maka tentunya Nabi tidak akan mengizinkan
untuk membunuhnya kecuali lewat proses penyembelihan yang syar’iy.
Rasulullah -Shallallahu ‘alaihi wasallam- bersabda:
خَمْسٌ
فَوَاسِقُ يُقْتَلْنَ فَي الْحِلِّ وَالْحَرَمِ: اَلْحَيَّةُ وَالْغُرَابُ
الْاَبْقَعُ وَالْفَأْرَةُ وَالٍْكَلْبُ وَالْحُدَيَّا
“Ada
lima (binatang) yang fasik (jelek) yang boleh dibunuh baik dia berada
di daerah halal (selain Mekkah) maupun yang haram (Mekkah): Ular, gagak
yang belang, tikus, anjing, dan rajawali (HR. Muslim)
Adapun
tokek dan -wallahu a’lam- diikutkan juga kepadanya cicak, maka telah
warid dari hadits Abu Hurairah riwayat Imam Muslim tentang anjuran
membunuh wazag (tokek).
[Bidayatul Mujtahid (1/344) dan Tafsir Asy-Syinqithy (1/273)]
14. Kura-kura (arab: salhafat), anjing laut, dan kepiting (arab: sarthon).
Telah berlalu penjelasannya pada pendahuluan yang ketiga bahwa ketiga hewan ini adalah halal dimakan.
[Al-Luqothot point ke-28 s/d 30]
Ikan hiu (Inggris : shark) dalam literatur bahasa Arab disebut al-qirsyu. Dalam Kamus Al-Maurid, diterangkan bahwa shark (ikan hiu) adalah ikan liar yang sebagiannya berukuran besar yang ditakuti kebuasannya (al-qirsy samakun muftarisyun ba’dhuhu kabiirun yukhsya syarruhu).
Ikan hiu hukumnya mubah, karena
termasuk binatang laut yang hukumnya halal menurut keumuman dalil-dalil
Al-Qur`an dan As-Sunnah (M. Masykur Khoir, Risalatul Hayawan, hal. 62). Dalil Al-Qur`an antara lain firman Allah SWT :
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَكُمْ
“Dihalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimuc” (QS Al-Maidah [5] : 96).
No comments:
Post a Comment